Ongkos Tamasya ke Kawah Papandajan (1913)

Tarif masuk ke kawasan gunung Papandayan melonjak naik setelah dikelola swasta. Entah apa yang mau dikelola. Orang-orang yang mendaki hanya butuh tanah, langit, dan sungai. Segalanya sudah disediakan alam, lengkap dengan pemandangan indahnya. Betul tidak?

Tapi tahukah berapa ongkos yang harus dikeluarkan turis mancanegara pada awal abad ke 20 untuk sampai ke kawah Papandayan doeloe? Mamang mah tahu…

illustratedtouri00

Dalam buku “Illustrated Tourist Guide to Buitenzorg, the Preanger, and Central Java”, terbitan Official Tourist Bureau, 1913, Garoet menjadi salah satu destinasi wisata utama yang ditawarkan. Sesuai namanya, buku itu memberikan panduan, jenis transportasi beserta ongkos yang harus dikeluarkan. Termasuk ke kawah Papandajan.

Papandajan

Nah, bayangkan sekarang mamang teh turis yang nginap di salah satu hotel di Garoet. Misal, hotel Papandajan. Di hotel Papandajan ini ada paket touring ke kawah Papadajan. Dari hotel Papadajan ke Tjisoeroepan berangkat pagi-pagi sekali menggunakan kereta kuda (“trap”). Kereta ini biasanya ditarik 3 ekor kuda, ke Tjisoeroepan kan nanjak. Nanti kereta akan berhenti di hotel Villa Pauline. Tarif kereta fl.5,- (5 gulden), pulang pergi. Jangan lupa tips buat kusir fl.0,50.

Dari Villa Pauline menuju kawah Papandajan disediakan kuda tunggangan dengan tarif fl.3,50 dan buat tukang nungtun kuda fl.0,30. Ada lagi, jasa porter yang membawakan makan siang fl.0,50 dan buat guide selama di kawah fl.0,75. Dan kalau mau keliling menjelajah kawasan gunung Papandajan, disediakan tandu (“sedan chair”) dengan tarif fl.4,- dan jasa kuli panggulnya 4 orang, masing-masing fl.0,10.

Jadi total ongkos yang harus dikeluarkan mamang setidaknya sebesar fl.14,95. Merujuk pada harga emas saat itu, jika dikonversikan ke rupiah sekarang maka ongkosna setara kira-kira sebesar Rp.1.200.000-an. Itu belum kopi, indomih, dan bako sampoernah…

[M.S]

6 Comments

  1. Two on Their Travels

    Suami istri Andrew dan Ethel Colquhaun melakukan perjalanan keliling dunia. Catatan perjalanannya ditulis Ethel Colquhaun dan diterbitkan sebagai buku dengan judul “Two on Their Travels” (1902). Nyonya Ethel sangat menyukai Garoet. Berikut kutipan bagaimana kesannya tentang Garoet saat itu:

    “Sebetulnya tak ada ruang untuk saya menulis lagi tentang pulau Jawa, namun saya memiliki sedikit dari semua yang sangat anda ingin lihat. Saya ingin berlama-lama lagi di Garoet, sebuah tempat yang indah yang dikelilingi gunung-gunung. Garoet, dengan bungalow-bungalow berhias bunga, dengan jalanan putih yang panjang di antara sawah-sawah yang memantulkan bayangan gunung-gunung biru. Garoet berada di pegunungan, dan orang tidak harus berjalan mendaki ke atas gunung-gunung itu setiap kali keluar untuk menikmati udara segar. Udara seolah berkilauan; itu seperti sampanye. Seseorang tidak pernah menyadari betapa nikmatnya hidup sampai dia menghirup udara seperti itu. Ya saya ingat suatu pagi ketika kami melalui sebuah pemandangan yang masih diliputi kesegaran udara yang lembab. Warna-warna yang cerah, udara murni yang segar, pemandangan gunung-gunung yang cantik, pemandangan sungai dan sawah ladang yang selalu baru dan terus berubah, semua ini sudah cukup untuk membuat kebahagiaan, tetapi juga terasa menambahkan bagi saya semangat muda, kesehatan, cinta, dan kesahajaan hidup yang merupakan satu-satunya kekayaan sejati. Hidup tampak hampir terlalu penuh dengan kesenangan dan keindahan, dan sulit pada saat-saat seperti itu untuk menyadari rasa sakit dan penderitaan dunia.”

    Gambar: “A Mountain Road, Java”, dari Ethel Colquhaun, Two on Their Travels (1902).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s