Bung Sastra, Sahabat Sjahrir dari Kampung Seungkeu (Banyuresmi)

Sutan-Sjahrir

Sutan Sjahrir

Hidup dan perjuangan Sutan Sjahrir banyak mewarnai perjalanan awal republik ini. Ia satu di antara pemimpin pergerakan nasional yang menonjol pada masa kolonial, dan kemudian pasca kemerdekaan menjadi Perdana Menteri pertama negara Republik Indonesia. Namun, akhir hidup Sjahrir dijalani sebagai tahanan politik Soekarno. Revolusi memakan anaknya sendiri…

Satu fragmen hidup Sjahrir pernah diisi persahabatan hangat dengan seorang aktivis buruh dari kampung Seungkeu (sekarang termasuk wilayah kecamatan Banyuresmi, Garut), bernama Sastra. Sayang, belum banyak sumber yang bisa diperoleh untuk menguak sosok Sastra ini. Dalam buku Mengenang Sjahrir (2010), beruntung ada tulisan Sastra sendiri yang berjudul “Makna Sjahrir untuk Sastra dan Sastra untuk Sjahrir”; selagi belum diperoleh sumber-sumber lain, menjadi referensi utama di sini.

Mana cung nu urang Seungkeu?

***

Kawan Baik
Sebelum pecah Perang Dunia II, Sjahrir dan Moh. Hatta menjalani pengasingan di Banda Neira. Selama masa pengasingan, Sjahrir punya banyak anak asuh sekaligus anak didiknya di sana. Saat anak-anak setempat tidak dapat masuk ke sekolah formal, Sjahrir menampung mereka dan memberikan pelajaran sekolah. Namun semuanya berakhir sesaat menjelang kedatangan tentara Jepang. Sjahrir dan Hatta mendadak akan dipulangkan ke pulau Jawa. Sjahrir membujuk untuk dapat membawa serta anak-anak didiknya terbang ke Jawa, namun hanya tiga orang anak saja yang dapat ikut. Tak berapa lama selepas rombongan Sjahrir dan Hatta terbang, Banda Neira diserang tentara Jepang.

Di Jawa, Sjahrir bersama keluarga dan anak didiknya itu ditempatkan di Sukabumi, sampai kemudian Jepang datang pula. Sjahrir yang anti-fasis, menolak bekerja sama dengan tentara pendudukan Jepang. Sjahrir berjuang melawan Jepang dengan gerakan bawah tanah.

Selama pendudukan Jepang, kehidupan sehari-hari keluarga Sjahrir harus dijalani dengan berat. Sjahrir mengandalkan bantuan dari para sahabatnya. Digambarkan oleh salah satu anak didik Sjahrir, Lily Gamar Sutantio, yang menyebut Sjahrir sebagai Oom Sjahrir, seperti ini: Hidup kami mengirit sekali meskipun Oom mendapat sekadar bantuan dari kawan-kawan; dan kami selalu gembira kalau Bung Sastra, kawan baik Oom, datang dari Garut membawa beras, ikan asin, dan buah-buahan. (Lily Gamar Sutantio, “Kenang-kenangan akan Jasa-jasa Baik Oom Sjahrir, Pecinta dan Sahabat Anak-anak”, dalam Mengenang Sjahrir.

Bung Sastra dari Garut
Sastra lahir dari keluarga petani di kampung Seungkeu Banyuresmi kabupaten Garut. Dulu wilayah ini masih termasuk distrik Leles. Dalam biografi singkatnya disebutkan bahwa Sastra lahir pada tanggal 3 Juni 1898, mungkin perkiraan saja, sebab Sastra sendiri ragu kepastian tanggal kelahirannya, katanya: “Zaman saya lahir belum lazim orang membuat akta kelahiran…”

Setelah lulus dari Sekolah Kelas Dua (Vervolgschool) di kampungnya, Sastra melanjutkan ke sekolah pertukangan. Ia kemudian bekerja di Bengkel ACW Bandung (sekarang menjadi Pindad). Di bengkel ini, Sastra menjadi aktivis SBBE (Serikat Buruh Bengkel Elektro) di lingkungan Bengkel ACW Bandung (1922-1927) dan bahkan menjadi pimpinannya.

Saat itu nama Sjahrir belum muncul sebagai tokoh nasional. Kata Sastra, mungkin dia baru duduk di tingkat akhir sekolah dasar atau baru lulus di sekolah lanjutan pertama.

Masa-masa itu adalah zaman tumbuh suburnya ideologi revolusioner kaum buruh internasional pasca keberhasilan revolusi Oktober di Rusia yang dipimpin Lenin. Salah satunya berimbas pada perpecahan Sarekat Islam menjadi SI Putih dan SI Merah. SI Merah yang di kemudian hari menjadi Partai Komunis Indonesia. Tokoh-tokoh terkemuka saat itu adalah Semaun, Drsono, Tan Malaka, Alimin, dan Muso. Ideologi komunis ini pula yang menjiwai dan mengilhami perjuangan Sastra sebagai pimpinan serikat buruh, yaitu semangat revolusi, semangat berontak melawan Belanda. Walaupun terdorong dengan semangat perlawanan ini, tetapi Sastra sendiri bukan anggota PKI.

Tahun 1926 PKI melakukan pemberontakan. Banyak orang ditangkap dan dihukum. Sebagai pimpinan serikat buruh yang dijiwai dan diilhami oleh semangat berontak yang dikorbankan oleh tokoh-tokoh PKI itu, tidak aneh kalau Sastra kemudian dianggap terlibat dalam pemberontakan kaum komunis itu yang gagal itu. Pada akhir 1926, Sastra ditangkap di Garut, dibawa ke Bandung dan ditahan di penjara banceuy. Kemudian dijatuhi hukuman penjara empat tahun, berturut-turut di penjara Glodok, Cipinang, kemudian di Padang. Menurut Sastra, orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan 1926-1927 itu sebenarnya sebagian besar bukan karena keyakinan ideologi komunis, melainkan karena kebenciannya terhadap Belanda, karena semangat kemerdekaan. Sastra bebas dari penjara pada tahun 1931.

Perkenalan dengan Sjahrir
Pada tanggal 22 Desember 1930, Pengadilan Bandung menghukum empat orang pimpinan Partai Nasional Indonesia: Soekarno, Gatot Mangkupradja, Maskoen, dan Soepriadinata. Atas kejadian itu, Pengurus besar PNI atas anjuran Mr. Sartono membubarkan PNI pada 17 April 1931.

Pembubaran PNI ini menimbulkan gejolak di antara aktivis pergerakan. Golongan yang menentang pembubaran menyebut diri sebagai “Golongan Merdeka”, dan menghimpun diri dalam Studie Club di tempat masing-masing. Termasuk dalam kelompok ini adalah Sastra, penggerak Studie Club “Golongan Merdeka” di Garut (1931-1932) selepas bebas dari penjara. Sementara itu, Sjahrir segera pulang dari Belanda pada Desember 1931 membawa amanat Hatta untuk ikut membantu “Golongan Merdeka” ini.

Pada Februari 1932, kaum “Golongan Merdeka” mengadakan konperensi di Yogyakarta. Para pimpinan Studie Club sepakat untuk bergabung dan membentuk organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Pendidikan). Terpilih sebagai ketua adalah Soekemi. Keinginan menghidupkan kembali PNI sebagai partai politik akan dibicarakan dalam Kongres Golongan Merdeka yang direncanakan berlangsung tahun 1932 itu juga. Sjahrir yang baru datang dari Belanda segera bergabung dengan PNI-Pendidikan dan diangkat sebagai ketua cabang Jakarta.

Pada Juni 1932 diselenggarakan kongres PNI-Pendidikan di Bandung. Semua sepakat pembentukan PNI sebagai Partai Politik dengan sifat sebagai Partai Kader. Kemunculan Sjahrir yang baru berusia 23 tahun dengan kematangan berargumentasi menarik perhatian Sastra. Sebelumnya, bukan hanya Sastra yang menganggapnya sebagai “anak tanggung”, tetapi juga peserta kongres lain yang belum banyak mengenal Sjahrir. Dan kemudian Sjahrir terpilih sebagai Pimpinan Umum. Pada saat pemilihan Pimpinan Umum itu, Sastra berharap tetap Soekemi yang terpilih, tetapi Soekemi sendiri justru memilih Sjahrir.

Sejak perjumpaan di kongres itu, hubungan Sjahrir dan Sastra sangat erat. Segera sehabis kongres itu, Sjahrir ikut bersama Sastra ke Garut. Sjahrir diajak melihat-lihat kampung Seungkeu dan tempat-tempat lain di daerah Garut. Sjahrir dan Sastra menjadi sahabat karib. Banyak peristiwa yang dilewati mereka bersama. Saat bergerak bersama Sjahrir, Sastra diberikan nama-nama alias oleh Sjahrir untuk menghidari kejaran polisi rahasia Hindia Belanda: di Jawa Tengah, disebut Engkos, dan di Jawa Timur jadi Daud.

Saat Sjahrir diasingkan ke Digoel kemudian ke Banda Neira, komunikasi mereka tetap berjalan. Dan ternyata Sastra aktif pula mengusahakan kepulangan Sjahrir (dan Hatta) menjelang kedatangan tentara Jepang. Kemudian, pada masa pendudukan Jepang mereka bersama bergerak di bawah tanah di bawah baying-bayang Kempetai. Pada saat Jepang hampir kalah, Sastra dan Sjahrir mencari Tan Malaka ke pelosok Banten dan membujuknya agar mau menjadi orang yang mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, tetapi Tan Malaka menolak. Di masa kemerdekaan, Sastra menjadi aktivis Partai Sosialis Indonesia yang diketuai Sjahrir, sampai sempat menjadi anggota parlemen.

Bagi Sastra, sosok Sjahrir begitu istimewa walaupun secara usia lebih muda dibanding dia. Katanya, Sjahrir pertama-tama adalah guru yang mengajarkan pengertian tentang cita-cita perjuangan, yaitu kemerdekaan dan kerakyatan. Kedua, Sjahrir adalah pemimpin. Ketiga, Sjahrir adalah teman setia, dan kelima, Sjahrir adalah teladan bagi Sastra. Sementara Sjahrir sendiri selalu memerlukan pendapat dan pikiran Sastra sebelum keputusan-keputusan penting diambil. Pada suatu ketika, Sjahrir pernah menyebut “Sastra is het geweten van de strijd”, atau Sastra itu bisikan nurani perjuangan.

Dari Komunis ke Sosialis
Sastra bercerita bahwa saat membawa Sjahrir tamasya ke desa-desa di Garut, dia acap kali berdiskusi dengan Sjahrir mengenai kegagalan pemberontakan kaum komunis di tahun 1926. Sastra rupanya mendapat pencerahan tentang cita-cita dan pelaksanaan perjuangan. Mungkin juga ini menjadi titik balik sehingga Sastra meninggalkan komunisme dan kemudian mengikuti garis perjuangan kerakyatan ala sosialis Sjahrir.

Sjahrir menyebut bahwa revolusi tidak mungkin diadakan sembarang waktu, menurut kehendak nafsu si pemimpin yang gila-berontak. Perjuangan hanya akan berhasil jika dilaksanakan dengan tertib dan teratur, dengan pemikiran yang tertib dan teratur pula. Karenanya, pengetahuan tentang teori maupun praktek perjuangan harus dipelajari hingga dapat diterapkan pola yang tepat sesuai kondisi yang ada. Suatu revolusi hanya mungkin terjadi kalau syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu syarat obyektif berupa ketidakpuasan rakyat yang umum merata dalam masyarakat, kekalutan, dan lenyapnya disiplin di kalangan aparat pemerintahan, serta kebingungan tokoh-tokoh yang memerintah. Kemudian syarat subyektif, yaitu manusia-manusia yang memperjuangkan perbaikan keadaan itu. Kalau kedua syarat itu tersedia, mesti pula dipertimbangkan kapan waktunya yang tepat, yang disebut saat psikologis. Pemberontakan komunis 1926 itu gagal karena syarat-syarat itu belum lagi tersedia.

Tapi ada pesan Sjahrir yang menarik dan kiranya perlu diberi garis bawah yang tebal. Begini, …tidak mungkin buah suatu revolusi bermanfaat bagi rakyat banyak kalau didasarkan kepada rasa kebencian terhadap sesama manusia. Perjuangan kemerdekaan kita harus dilandasi oleh rasa persaudaraan kemanusiaan. Semangat benci dan semangat mengamuk serta tindakan pengrusakan dan penyembelihan tidak akan membuahkan hasil yang baik. Tindakan kekerasan hanya dapat dibenarkan dan dimanfaatkan jika terpaksa untuk membela diri.

Sastra dan Wira Seungkeu
Sesungguhnya ada sosok lain yang berpengaruh dalam perjalanan perjuangan Sjahrir. Ia tak lain adalah Wira, kakak Sastra. Tokoh-tokoh tua mengenalnya sebagai “Wira Seungkeu”. Sastra sendiri tidak menyinggung tentang Wira dalam tulisannya tentang Sjahrir. Sedikit keterangan tentang Wira diberikan oleh Usep Romli HM.

Dalam tulisan “Lalakon Carpon” (Manglé No. 2437, 16-21 Agustus 2013) dan “Ilubiung dina Pulitik” (Manglé No. 2475, 8-14 Mei 2014), Usep Romli HM menulis bahwa Sastra dan Wira Seungkeu ini termasuk penggiat politik yang mumpuni, sebab berangkat dari pengkaderan yang matang. Salah satunya melalui “kursus politik”.

Wira, walaupun dia sehari-hari hanyalah seorang petani dan pengrajin periuk dan anyaman tetapi paham seluk beluk politik karena pada saat remaja rajin mengikuti acara-acara “pahadréng” (verharding) atau diskusi. Dulu acara pahadréng ini sering diadakan di Garut oleh Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto.

Kabarnya, Wira ini adalah guru politik dan “guru spiritual” Sjahrir. Berbeda dengan adiknya, Wira tidak tertarik menjadi anggota parlemen. Wira Seungkeu tetap menekuni profesinya di kampung sebagai pengrajin periuk dan anyaman, sambil menyelenggarakan “kursus politik” di kampung Seungkeu. ***

[MS.Naratas Garoet.2018]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s